Rabu, 07 September 2011

Arus Balik 2011 ( The Eighth Descendant)

Setelah kemarin dihidangkan catatan tentang arus mudik saatnya cerita pengalaman balik yang lebih seru ini ditulis. Ok langsung saja gak usah banyak kata-kata,langsung disimak ceritanya gan

Libur lebaran tahun 2011 ini terasa cepat berlalu,delapan hari di rumah berkumpul dengan keluarga terasa masih kurang,dan masih ingin menambah libur lagi.Ingin rasanya menghentikan waktu agar kita bisa lebih lama lagi di kampung halaman dan tidak segera balik ke tanah perantauan.Tapi,hidup itu adalah sebuah pilihan,ketika dompet kita kosong,maka pilihannya harus segera kita mencari isinya atau akan terus membiarkan selamanya tetap kosong.Dan pilihan bijak pertamalah yang harus dipilih untuk esok hari,balik ke kota pangkal perjuangan mencari secuil dari bongkahan berlian.
Hari ini, 3 September 2011,jam 11.40 WIB,dengan doa restu dari orang tua dan keluarga aku awali perjalananku ke barat.Rencananya aku akan naik kereta ekonomi jurusan Solo-Semarang (kereta yang cuma berangkat 2 kali perjalanan dalam sehari) dari stasiun solo balapan. Jarak rumah ke solo balapan sekitat 35 menit,kereta berangkat jam 13.00,saya pun berangkat dengan santai.
Setelah 15 menit berlalu di atas Jupe MX merah ( diantar oleh kakak pertama) ,aku ingat ada sesuatu yang tertinggal di rumah,ah benar ternyata sepasang shockbreaker dan kickstarter tidak ikut dalam barang bawaanku,sempat bimbang mau diambil atau nggak.Mengingat kurang begitu penting (non value added apa non added value ya?) maka saya tetap lanjutkan perjalanan saya menuju stasiun,karena nanti saya harus berhenti di tempat pengiriman barang untuk mengirim buah tangan dari Bajul Kesupen (baca : Boyolali).Sampailah kami di jalan raya Solo Boyolali,sedikit tersenyum lega saya berkata dalam hati,untung saja memilih naik kereta,kalo naik bis bisa-bisa ngompol di jalan nih nahan kencing gara-gara macet. Kondisi kendaraan padat merayap dan jalur pun sudah dialihkan menuju jalur alternatif.
Perjalanan masih berlanjut,setelah 35 menit seharusnya saya sudah sampai ke stasiun,tetapi saya baru sampai di tempat pengiriman.Tidak perlu berlama-lama,5 menit cukup ntuk mengurus proses pengiriman. Sambil melihat jam saya pun meminta kakak saya untuk lebih ngebut karena waktu yang tersisa sampai jam pemberangkatan  kereta tinggal 30 menit. Dan 12.50 kami pun sampai di stasiun balapan solo,kereta sudah menunggu siap untuk diberangkatkan,saya pun berpamitan dengan kakak saya.


Segera saja saya naik ke kereta pandanwangi,dan Caturo,Roberto,dan Apri sudah menunggu di ujung gerbong belakang berukuran satu meter persegi.Wah bakalan jadi turunan ke-8 nih selama 3,5 jam,mau duduk aja gak bisa,terpaksa upacara.Kereta penuh sesak,kami pikir kereta hanya akan berhenti di stasiun kecil untuk menurunkan penumpang saja bukan untuk menaikkan penumpang.Ternyata salah,hukum kereta ekonomi mengatakan  "Setiap menurunkan penumpang,harus ada penumpang yang naik yang lebih banyak menggantikannya".OMG mo di taruh dimana nih penumpang.udah penuh sesak,bau parfum mulai dari parfum pemikat wanita sampai minyak masuk angin pun bercampur,untung saja dapat tempat dekat jendela,jadi gak sempat jackpot. Dan,saat berhenti di stasiun ke-5 terjadi cek-cok antara penumpang yang nekat mau naik dengan Apri (satu kalimat singkat yang masih kami ingat yaitu "ORA ISOH"),tapi tidak sampai berlanjut,calon penumpang ngeyel itu akhirnya ngalah juga.


Akhirnya tepat jam 16.25 sampai juga kami di stasiun tawang,setelah perjalanan panjang dengan pemandangan bukit-bukit gersang ( meskipun ada dua bukit yang enak dipandang dan  lumayan menyejukkan mata karena tidak segersang yang lain) dan hutan jati.Selesai sudah pengalaman menjadi keturunan kedelapan (the eighth descendant).Tak lupa kami menjalankan sholat dulu sebelum melanjutkan jalan2 kita ke kota Semarang (masih tersisa lumayan banyak waktu,sayang kalo dipakai buat melamun di stasiun).
Sesuai rencana kami pun memilih kawasan Simpang Lima sebagai tempat singgah sementara kami. Taxi kami pilih sebagai pengantar kami berempat menuju tempat yang menjadi ikon kota Atlas tersebut. Dengan menggendong ransel yang terisi penuh barang bawaan,kami menjelajahi CitraLand dan Matahari ,mall yang terletak di simpang lima.Setelah capek berjalan, kami memutuskan untuk istirahat dan sholat di masjid Baiturrahman (masjid besar di simpang lima). Selesai sholat kami lanjutkan malam ini dengan menikmati makan malam, lesehan di pinggir ruas jalan simpang lima. Diiringi dengan nyanyian pengamen yang setiap 30 menit beresar dengan orang yang sama kami pun menyantap makan malam kami (aku dan apri memilih tahu gombal eh tahu gimbal dan catur ama pandu memilih nasi kucing).Tak dinyana dan tak disangka ada pengamen yang mirip Mariah Carey menyanyikan lagu How Do I Live dan dengan antusias Caturpun langsung pasang kuda-kuda mengambil uang lembaran untuk pengamen tersebut dan dibalas dengan ucapan Terima kasih ya Say !!! 
Simpang Lima

Mariah Carey

Tak terasa jam sudah menunjukkan 19.30,sudah waktunya kembali ke stasiun Tawang. Sepuluh menit waktu yang kami butuhkan untuk sampai di stasiun Tawang. Kami pun mencari si kecil Yudi,karena tiket kereta kami dipegang oleh dia,dan setelah ketemu tak lupa kami bersalaman dengan Yudi yang agak jaim karena ada cewek dan camernya (cocok dipanggil Yudi Jaim nih ,hehehe ). Dan setelah menunggu, tepat jam 20.30 kereta eksekutif jurusan Bandung diberangkatkan.Karena kecapekan habis upacara,memandangi bukit dan pohon jati  dan terakhir jalan - jalan di simpanglima kami pun langsung tertidur pulas dan dibangunkan oleh kru kereta untuk turun di stasiun Cikampek.Jam 03.00 kami melanjutkan perjalanan menuju rumah dan kos kami diantar oleh angkot biru.

Sebuah pengalaman yang sangat berharga,dimana kita belajar untuk berbagi , menghargai orang lain, disiplin dan banyak pelajaran yang akan sangat berharga dalam perjalanan hidup kami untuk menjadi yang lebih baik........ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar